Bisnis

Hasil Investigasi dan Penjelasan Resmi Chery Soal Insiden Tiggo 8 CSH yang Mati Mendadak
Chery Tiggo 8 CSH. Foto: dok. CSI
Hasil Investigasi dan Penjelasan Resmi Chery Soal Insiden Tiggo 8 CSH yang Mati Mendadak
SELASA, 21 OKTOBER 2025 | 06:46 WIB
PENULIS: TIM REDAKSI
JAKARTA - Belakangan ini menjadi sorotan publik tentang pemilik Chery Tiggo 8 CSH yang menuding mobilnya mati mendadak, AC tak dingin, dan mengalami jump shift pada perjalanan dari Jakarta ke Surabaya.

Dalam postingan Simon Anggono di grup Facebook yang menceritakan kalau mobilnya mogok di tol kehabisan bensin dan AC mati ini kemudian memicu respons resmi dari pihak PT Chery Sales Indonesia (CSI).

Chery kemudian melakukan investigasi teknis terhadap unit Tiggo 8 CSH milik Simon. Hasilnya disampaikan bahwa sejumlah masalah tersebut bukan disebabkan oleh cacat manufaktur, melainkan dikaitkan dengan pola penggunaan kendaraan dan kondisi eksternal. Hasil Investigasi Chery dan Penjelasan Resmi [caption id="attachment_38032" align="alignnone" width="2560"] Hasil investigasi dan penjelasan resmi Chery soal Chery Tiggo 8 CSH yang mati mendadak. Foto: Bakawal/DF[/caption]Menurut Asisten Presiden Direktur PT CSI' Zeng Shuo, dari penyelidikan, Chery menjelaskan bahwa mobil sempat mati mendadak karena masuk ke mode proteksi.

Hal itu terjadi ketika baterai berada dalam kondisi tegangan tinggi (State of Charge/SOC), sementara tangki bahan bakar kosong, sehingga sistem secara otomatis menghentikan operasi demi keselamatan."Soal jarak tempuh yang menurun signifikan, kami menilai hal tersebut dipengaruhi oleh gaya berkendara yang agresif. Akselerasi dan deselerasi secara cepat serta berulang menuntut konsumsi energi lebih besar, ditambah lagi hambatan udara pada kecepatan tinggi membuat jarak tempuh berkurang," terang Zeng Shuo saat ditemui di Jakarta, Rabu (24/9). Baca juga: Modifikasi Supergiveaway Chery J6 Garapan Cellos ZXZ Akhirnya Rampung Lebih lanjut, mengenai keluhan terkait AC yang tidak dingin juga sempat dialami. Zeng Shuo menyebut kondisi ini wajar terjadi ketika suhu baterai meningkat akibat beban listrik tinggi."Sistem kendaraan secara otomatis akan memprioritaskan stabilisasi daya dan distribusi energi pada sistem utama, sehingga performa pendinginan kabin melemah sementara," ungkapnya. Sementara untuk masalah jump shift atau perpindahan gigi yang tidak mulus, hasil investigasi pihak Chery ditemukan adanya kebocoran air ke area dashboard.

Hal ini diduga berasal dari pemasangan kaca film, yang kemudian memicu gangguan pada modul BDM (Body Domain Module). Akibatnya, sinyal transmisi tidak berjalan sempurna dan menghambat proses inisialisasi perpindahan gigi secara normal. Simak juga: Chery Group dan Tiga Pilar Masa Depan Otomotif: Chery, Jaecoo, dan Lepas Temuan investigasi juga menunjukkan bahwa masalah ini bukan berasal dari cacat komponen, namun faktor eksternal dari aktivitas penggunaan. Setelah dilakukan perbaikan menyeluruh, unit milik Simon Anggono telah dikembalikan pada 18 September 2025 dan dinyatakan kembali normal oleh pihak Chery usai melalui tahap uji jalan. Transparansi dan Penanganan Keluhan [caption id="attachment_29879" align="alignnone" width="2560"] Chery Tiggo 8 CSH (Chery Super Hybrid) resminhadir di Indonesia. Foto: Bakawal/Farhan[/caption]Meski pihak Chery menegaskan bahwa masalah tersebut bukan berasal dari cacat produksi, namun tetap ada tanggung jawab moral dan teknis.

Sebagai agen pemegang merek Chery, CSI perlu memberikan edukasi jelas soal batas penggunaan kendaraan, khususnya teknologi hybrid atau plug-in yang sangat bergantung pada baterai dan bahan bakar. Selain itu, kasus kebocoran akibat pemasangan kaca film menunjukkan perlunya panduan resmi terkait pemasangan aksesori aftermarket.

Langkah transparan dan penangan keluhan yang cepat, termasuk audit independen ketika terjadi kasus viral, juga bisa membantu menjaga kepercayaan publik. Baca juga: Jelajahi Rute Jakarta–Bandung, Konsumsi BBM Chery Tiggo 8 CSH Tembus 59 Km/Liter Di sisi lain, pemilik kendaraan juga punya peran penting. Gaya berkendara ekstrem, seperti akselerasi dan pengereman berulang, sebaiknya dihindari agar baterai dan sistem tidak terus-menerus dipaksa bekerja dalam kondisi puncak.

Pemilik juga perlu memahami batas aman penggunaan, seperti menjaga level bahan bakar dan kapasitas baterai agar mobil tidak masuk mode proteksi. Untuk pemasangan aksesori, sebaiknya mengandalkan bengkel resmi agar tidak menimbulkan gangguan pada sistem kelistrikan.

Insiden ini memberikan pelajaran penting bahwa teknologi tinggi sekalipun tidak kebal terhadap masalah jika pola penggunaan tidak tepat atau perawatan tidak sesuai.

Dalam era kendaraan hybrid dan listrik, tanggung jawab tidak hanya berada di tangan produsen, tetapi juga pengguna yang harus lebih paham karakteristik kendaraannya.

Produsen di sisi lain dituntut untuk menghadirkan buku manual yang mudah dipahami, lengkap dengan penjelasan skenario kegagalan atau mode proteksi.

Sistem monitoring jarak jauh juga bisa membantu mendeteksi keluhan lebih cepat sebelum viral. Selain itu, jaringan bengkel dan mitra after-sales harus dibekali kompetensi yang mumpuni, tidak hanya dalam menangani mesin konvensional, tetapi juga sistem kelistrikan dan elektronik modern.
Editor Redaksi
Editor Redaksi Editor