News

Festival Perang Air Kepulauan Meranti Masuk KEN 2026
Suasana Festival Perang Air di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. (ANTARA/HO-Kementerian Pariwisata)
Festival Perang Air Kepulauan Meranti Masuk KEN 2026
JUMAT, 20 FEBRUARI 2026 | 18:28 WIB
PENULIS: TIM REDAKSI
JAKARTA - Kementerian Pariwisata mengumumkan bahwa Festival Perang Air di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, masuk dalam program unggulan Karisma Event Nusantara (KEN) tahun 2026.

"Masuknya Festival Perang Air dalam 125 Karisma Event Nusantara adalah prestasi bersama masyarakat Kepulauan Meranti," kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan Kementerian Pariwisata Vinsensius Jemadu dalam keterangan pers kementerian yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

"Ini bukti bahwa tradisi lokal mampu naik kelas menjadi panggung nasional," katanya.

Vinsensius menyampaikan, acara dan kegiatan yang masuk KEN 2026 dinilai bisa menimbulkan dampak signifikan terhadap pergerakan wisatawan dan perekonomian daerah.

Menurut Vinsensius, atraksi budaya selama Festival Perang Air bisa memperkuat citra Meranti sebagai daerah yang aman, tertib, inklusif, dan kaya tradisi.

Festival Perang Air bisa masuk KEN 2026 setelah melalui proses seleksi ketat yang mencakup lebih dari 500 acara dan kegiatan di 38 provinsi di seluruh Indonesia.

Proses kurasi acara dan kegiatan tersebut dilakukan secara independen oleh tim profesional berdasarkan hasil penilaian ide dan konsep, manajemen penyelenggaraan, tata kelola keuangan, strategi pemasaran dan komunikasi, serta dampak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Festival Perang Air 2026 dalam rangkaian perayaan Imlek resmi ditutup pada Sabtu (21/2), setelah selama sepekan menarik ribuan warga dan wisatawan ke Jalan Ahmad Yani, jantung Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Setiap hari warga dan wisatawan saling menyiramkan air dan melempar balon berisi air dalam suasana penuh kegembiraan selama festival.

Vinsensius mengatakan, tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat Selatpanjang dalam merayakan Imlek.

Dahulu, warga yang pulang dari perantauan berkeliling mengunjungi sanak saudara menggunakan becak.

Dalam perjalanan silaturahmi itu, anak-anak biasa bercanda dengan saling melempar air ketika berpapasan dengan rombongan lain.

Tradisi sederhana tersebut kemudian tumbuh menjadi perayaan kolektif yang mempererat kebersamaan.

Seiring waktu, Festival Perang Air berkembang menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu di Meranti.

Momentum Imlek dan Festival Perang Air tahun 2026 tercatat menarik kedatangan 20.475 orang ke Kabupaten Kepulauan Meranti. Angka itu meningkat 1,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan mobilitas tersebut berdampak langsung pada okupansi penginapan, penggunaan sarana transportasi laut, omzet usaha kuliner, serta transaksi UMKM lokal. 
Tim Redaksi
Tim Redaksi Editor