News

Kamisan ke-21 Lawan Impunitas dan Tuntut Keadilan Korban
Aksi Kamisan Banjarbaru kembali digelar, Kamis (26/2/2026).
Kamisan ke-21 Lawan Impunitas dan Tuntut Keadilan Korban
KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 17:40 WIB
PENULIS: TIM REDAKSI
BANJARBARU - Aksi Kamisan Banjarbaru kembali digelar, Kamis (26/2/2026). Aksi yang menjadi ruang solidaritas dan perlawanan terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM) ini menyoroti sejumlah kasus dugaan pembunuhan oleh aparat kepolisian.

Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan dukungan bagi keluarga korban seperti Affan Kurniawan, Zahra Dilla, Arianto Tawakal, dan Gamma. Mereka menilai kasus-kasus tersebut mencerminkan persoalan serius dalam akuntabilitas penggunaan kekuatan oleh aparat.

Perwakilan massa, Wira Surya Wibawa, menyampaikan bahwa Aksi Kamisan bukan sekadar agenda rutin, tetapi komitmen moral untuk menjaga ingatan publik.
“Kami berdiri di sini untuk memastikan korban tidak dilupakan. Ketika hak hidup dirampas dan proses hukumnya tidak transparan, maka itu menjadi tanggung jawab negara untuk menjawabnya secara terbuka,” ujar Wira.

Menurutnya, pola kekerasan berlebihan, penggunaan senjata api yang tidak proporsional, hingga proses internal yang minim transparansi menjadi persoalan yang harus dibenahi.
"Impunitas adalah pelanggaran lanjutan. Jika pelaku tidak diproses secara adil dan akuntabel, maka negara gagal melindungi warganya,” tegasnya lagi.

Melalui aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya pengusutan yang independen dan transparan terhadap seluruh kasus yang melibatkan aparat, evaluasi menyeluruh terhadap penggunaan kekuatan dan senjata api, serta pemulihan dan restitusi bagi keluarga korban.

Aksi Kamisan sendiri dikenal sebagai gerakan yang konsisten memperjuangkan keadilan bagi korban pelanggaran HAM dengan menjaga ruang ingatan di ruang publik.
Aksi ditutup dengan seruan solidaritas dan komitmen untuk terus mengawal kasus-kasus yang dinilai belum memenuhi rasa keadilan.

“Selama keadilan belum benar-benar ditegakkan, kami tidak akan berhenti bersuara,” pungkas Wira.
Tim Redaksi
Tim Redaksi Editor